Fase Keuangan 20an-40an: Pelajaran dari Prita Ghozie
Banyak orang mengira urusan uang di usia 20-an, 30-an, dan 40-an itu sama saja: gajian, belanja, lalu sisanya ditabung. Padahal tiap dekade punya fase keuangan dengan tantangan dan prioritas yang berbeda. Artikel ini merangkum cara pandang perencana keuangan Prita Ghozie (CEO ZAP Finance) yang ia bagikan di podcast SUARA BERKELAS, lalu menerjemahkannya menjadi langkah praktis untuk pemula.
TL;DR
- 20-an = kerja untuk living: bertahan hidup, tapi jaga agar porsi biaya hidup tidak terlalu besar.
- 30-an = kerja dan mulai saving: bangun aset dan "segitiga penghasilan" (aktif, portofolio, produktif).
- 40-an = saving dan playing: hidup lebih nyaman dan bisa lebih memilih pekerjaan.
- Hindari tiga kesalahan: cicilan kendaraan panjang, kalap mengisi rumah baru, dan menunda dana pensiun.
- Prioritas nomor satu tetap dana darurat dalam bentuk kas.
Living, Saving, Playing: Tiga Pos Utama Keuanganmu
Sebelum masuk ke fase usia, kenali dulu tiga istilah sederhana yang sering dipakai Prita Ghozie:
- Living adalah pengeluaran yang wajib supaya hidup berjalan: makan, minum, tempat tinggal (kos pun termasuk), dan transportasi.
- Playing adalah pengeluaran yang membuat hidup lebih nyaman. Kalau tidak ada, kamu masih baik-baik saja, hanya kurang nyaman.
- Saving berasal dari kata to save, yaitu menyisihkan. Cakupannya lebih luas dari menabung, karena bisa berupa tabungan, dana darurat, maupun investasi.
Ketiganya sebaiknya terisi. Namun urutan prioritasnya jelas: living dulu, karena itu fakta hidup, apalagi di tengah inflasi. Kalau kamu belum punya catatan pembagian pos ini, mulailah dari panduan cara membuat budget bulanan untuk pemula.
Fase Keuangan di Setiap Dekade Usia
Usia 20-an: Fase Bertahan (Kerja untuk Living)
Di usia 20-an kebanyakan orang bekerja untuk bertahan hidup, bukan semata karena passion. Itu wajar. Pesan pentingnya: jangan biarkan porsi living terlalu besar. Kebiasaan mengendalikan diri yang dibangun sekarang membuat usia 30-an jauh lebih ringan. Karena itu Prita menyarankan agar usia 20-an tidak dipakai untuk mengejar kenyamanan hidup dulu.
Boleh tidak menyisihkan uang untuk "healing" di usia ini? Boleh. Kuncinya, pahami apa yang benar-benar membuatmu bahagia, supaya pengeluaran playing tepat sasaran dan efeknya tahan lama, bukan habis untuk hal yang cepat terlupakan.
Usia 30-an: Fase Stabil (Kerja dan Mulai Saving)
Harapannya, penghasilan di usia 30-an meningkat sehingga ada ruang untuk menyisihkan lebih banyak. Namun beban hidup juga biasanya naik: menikah, punya anak, dan tanggungan lain. Di fase ini kamu mulai membangun triangle of income atau segitiga penghasilan:
- Penghasilan aktif dari bekerja.
- Penghasilan portofolio dari uang yang sudah disisihkan dan diinvestasikan.
- Penghasilan produktif dari karya atau aset, misalnya royalti penulis yang menulis sekali namun bisa terus menerima hasil.
Usia 40-an: Fase Tumbuh (Saving dan Playing)
Jika fondasi di usia 30-an terbangun, di usia 40-an kamu bisa lebih bebas memilih pekerjaan dan mulai menikmati playing dengan nyaman, dengan target mandiri secara finansial di usia 50-an. Prita juga mengingatkan bahwa istilah generasi sandwich awalnya merujuk pada orang berusia 40–50-an, yang menanggung orang tua lansia sekaligus anak. Persiapan di usia 30-an menjadi penentu.
Tiga Kesalahan Keuangan yang Harus Dihindari
1. Membeli Kendaraan dengan Cicilan di Atas 5 Tahun
Kendaraan adalah cara termudah menunjukkan pencapaian, karena "kelihatan". Masalahnya, kendaraan nilainya terus turun (depresiasi). Menurut Prita, secara teori perencanaan keuangan, cicilan kendaraan idealnya maksimal sekitar 2 tahun. Cicilan besar untuk aset yang nilainya turun langsung menggerus kemampuan menabung, dan kebiasaan itu sulit diubah.
2. Kalap Mengisi Rumah Baru
Setelah lama berhemat demi rumah impian, godaannya adalah langsung mengisi dan merenovasi besar-besaran. Saran Prita: sabar, tinggali dulu rumahnya, pahami gaya hidupmu sendiri, baru beli yang benar-benar dipakai. Dengan begitu kamu bisa menghindari kredit renovasi yang tidak perlu.
3. Menganggap Pensiun Masih Terlalu Lama
"Baru umur 20, ngapain mikirin pensiun?" Padahal ini soal kebiasaan. Semakin terlambat mulai, semakin besar porsi yang harus disisihkan nanti. Prita bercerita, ibu mertuanya pernah menasihati bahwa 10% untuk pensiun itu kurang, dan sebaiknya sebanyak mungkin hingga 50%. Angka itu terdengar ekstrem, tetapi intinya adalah membiasakan diri menurunkan taraf hidup sejak awal, karena hidup penuh plot twist.
Prioritas Nomor Satu: Dana Darurat
Saat ditanya urutan prioritas keuangan, jawaban Prita tegas: dana darurat selalu nomor satu, bahkan sebelum dana pendidikan anak. Orang yang memiliki kas cukup cenderung mampu mengambil keputusan lebih logis tanpa tekanan finansial. Ia mengutip riset Vanguard tentang cash buffer sekitar US$2.000 (yang ia setarakan kira-kira Rp30 juta), dengan catatan angka ini perlu disesuaikan dengan kota dan kondisi masing-masing. Menurutnya, buffer ini sebaiknya berupa kas, bukan setara kas seperti emas.
Cara menghitung dan mengumpulkannya langkah demi langkah ada di panduan dana darurat untuk pemula.
Pelajaran Praktis untuk Pemula
- Petakan pengeluaran ke tiga pos: living, playing, saving. Cek apakah living terlalu dominan.
- Bangun dana darurat lebih dulu sebelum mengambil cicilan baru.
- Tahan cicilan barang yang nilainya turun, dan pilih tenor sependek mungkin.
- Mulai sisihkan untuk pensiun sekarang, walaupun kecil, supaya menjadi kebiasaan.
- Kenali kebahagiaanmu agar uang playing tidak bocor ke hal yang tidak berarti.
- Sabar. Prita sendiri butuh hampir 20 tahun (mulai usia 24) untuk mencapai target finansialnya. Tidak ada yang instan.
Tonton Videonya
Artikel ini disusun berdasarkan obrolan Prita Ghozie di kanal YouTube SUARA BERKELAS episode #86. Tonton lengkapnya di bawah ini:
Sumber video: SUARA BERKELAS (YouTube). Hak cipta milik pemilik kanal.
FAQ
Apa itu living, saving, dan playing?
Living adalah kebutuhan wajib, playing adalah pengeluaran untuk kenyamanan, dan saving adalah dana yang disisihkan untuk tabungan, dana darurat, atau investasi.
Berapa persen penghasilan yang sebaiknya disisihkan untuk pensiun?
Tidak ada angka tunggal. Prita menceritakan saran ibu mertuanya: lebih dari 10%, idealnya sebanyak mungkin. Yang terpenting adalah mulai sedini mungkin dan konsisten sesuai kemampuan.
Mana yang didahulukan, dana darurat atau dana pendidikan anak?
Menurut Prita Ghozie, dana darurat selalu menjadi prioritas pertama, baru kemudian tujuan lain seperti dana pendidikan.
Disclaimer: Konten ini bersifat edukatif dan bukan nasihat keuangan, investasi, atau pajak. Ringkasan disusun dari isi video pihak ketiga dan angka yang disebut merupakan ilustrasi. Sesuaikan keputusan dengan kondisi pribadi kamu, dan konsultasikan ke perencana keuangan berizin jika membutuhkan saran spesifik.

