Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Sukses Lee Su Jin, CEO Yanolja yang dulunya Cleaning Service

Kisah Lee Su Jin

Penamorf - Akhir-akhir ini beberapa media Indonesia  memberitakan Lee Su Jin, CEO Yanolja. Namanya memang belum setenar Jack Ma, tapi kisahnya tak kalah  inspiratif. 

Pasalnya  Lee Su Jin sang pendiri startup Yanolja sebelumnya bekerja sebagai cleaning service. Meskipun latar belakangnya seorang cleaning service, Lee Su Jin bisa mengembangkan Yanolja hingga menjadi miliarder

Bagaimana kisah Lee Su Jin?  Berikut detailnya :

Kehidupan Masa Kecil 

Dilansir dari Ajunews.com dan Hankyung.com, Lee Su Jin lahir dari keluarga yang secara finansial kurang beruntung.

Pada usia empat tahun, Lee Su Jin sudah tidak memiliki ayah karena ayahnya meninggal dunia. Dan dua tahun kemudian ibu Lee Su Jin juga meninggalkannya. 

Masa kecil Lee Su Jin tanpa ayah dan tanpa ibu. Lee Su Jin kecil tinggal bersama neneknya yang merupakan seorang petani biasa hingga di bangku SMP. 

Pendidikan 

Lee Su Jin menempuh pendidikan layaknya orang  pada umumnya. Saat duduk di sekolah dasar, Lee Su Jin masih belum bisa belajar bahasa Korea hingga kelas 5 SD.  Namun, dirinya berhasil bertahan sampai di bangku SMP.

Tidak seperti kawan-kawannya yang memilih sekolah di  SMA. Lee Su Jin  melanjutkan sekolahnya di SMK .

Untuk menghidupi dirinya, sejak SMP Lee Su Jin selalu berpindah-pindah. Dari kerabat yang satu ke kerabat yang lainnya. 

Dengan keterbatasam finansial, Lee Su Jin memaksakan diri untuk bekerja serabutan. Hebatnya Lee tidak mengesampingkan pendidikan dan tetap berkuliah di Universitas Nasional Gongju, Korea Selatan hingga lulus.

Menjadi Cleaning Service di Hotel dan buka bisnis

Di usia 23 tahun, Lee Su Jin bekerja sebagai cleaning service di "Love Hotel" atau disebut motel. Model bisnis motel bisa dibilang memiliki reputasi yang tidak bagus di Korea. 

Kenapa? Karena motel merupakan hotel dengan sewa perjam untuk mewadahi aktivitas seksual pengunjungnya.

Dari pekerjaan cleaning service, Lee Su Jin menggunakan penghasilannya untuk investasi saham. Yap, saham setidaknya pernah menjadi penyambung hidup Lee Su Jin.

Dirinya juga membuka bisnis salad, sayangnya kurang profitable dan akhirnya memilih untuk tutup usaha. 

Membangun Komunitas "Motel Story"

Dengan gagalnya bisnis salad yang ia bangun, Lee Su Jin akhirnya kembali ke dunia penginapan. Namun, bukan sekedar menjadi cleaning service. Melainkan juga membangun sebuah komunitas bernama "Motel Story" pada tahun 2004. 

Komunitas tersebut merupakan komunitas berbagi lowongan pekerjaan. Tentunya loker yang di share merupakan loker berkaitan dengan hotel di berbagai posisi. Mulai dari lowongan  cook helper, chef, front office, security, marketing, dan lain-lain

Perlahan namun pasti, komunitas  loker yang dia buat semakin bertumbuh dengan pesat. Ditambah lagi dirinya melakukan akuisisi komunitas bernama "Motel Tour". 

Total anggota komunitas yang Lee Su Jin miliki sekitar 200,000 orang. Semuanya merupakan anggota aktif yang berperan dibalik bisnis motel di Korea Selatan. 

Dari sinilah bibit dari startup bernama Yanolja

Merubah Komunitas ke Startup

Yanolja didirikan hasil dari komunitas yang dibangun Lee Su Jin.  Pada tahun 2005, setelah komunitas "Motel Tour" bergabung, Yanolja didirikan. 

Yanolja bila diartikan ke bahasa Indonesia artinya "Mari Bermain". Berdirinya Yanolja, bukan sekedar komunitas belaka. 

Melainkan menjadi tempat jual beli kebutuhan hotel. Mulai dari handuk, sikat gigi, pasta gigi, sandal, dan keperluan akomodasi hotel lainnya. 

Yanolja juga memulai bisnis pemesanan hotel dan memiliki visi mengubah pandangan bisnis motel menjadi lebih baik. 

Motel dikenal dengan stigma buruk di Korea Selatan, berubah menjadi motel yang menyenangkan dan tidak seburuk sebelumnya dalam pandangan masyarakat Korea Selatan. 

Desain yang buruk disulap dengan desain yang jauh lebih baik dengan harga yang terjangkau. Strategi Yanolja cukup berhasil dan mendulang banyak keuntungan.

Dari pemesanan hotel, Yanolja pada tahun 2015 memperluas lini bisnisnya menjadi aplikasi liburan, pemesanan makanan, dan juga belanja secara daring. 

Merambah ke dunia Teknologi

Yanolja tidak berhenti dan  mulai melirik pasar bidang teknologi. Bisnis Yanolja yang dibuka pada tahun 2017 merambah ke bidang Property Management System atau dikenal sebagai PMS. 

PMS merupakan sistem digital yang memproses segala sesuatu di dunia perhotelan seperti reservesi kamar hotel, reservasi restoran, dan juga pemesanan makanan secara daring.

Bisnis PMS yang dijalankan Yanolja saat ini tembus 23.000 akomodasi yang tersebar di seluruh dunia. Angka  tersebut merupakan terbesar kedua setelah Oracle

Keberhasilan bisnis PMS membuat Yanolja berani merambah bisnis "cloud" atau penyimpanan awan. Dan juga  menjadi perusahaan "Tech All In". 

Menjadi perusahaan Travell dengan status unicorn

Forbes mencatatkan bahwa perJuli 2021valuasi Yanolja mencapai US$6.7 miliar. Statusnya sudah unicorn dan dikabarkan akan mentai di bursa saham AS. 

SoftBank Vision Fund 2 menjadi pemegang saham terbesar yaitu sebanyak 35.3%. Pendirinya, Lee Su Jin sendiri memegang 16.5% saham. Dan  kedua anaknya beserta istrinya memegang 5.18% saham. 

Total kekayaan keluarga Lee Su Jin mencapai Rp29 Triliun.


Lee Su Jin mendirikan Yanolja dengan tujuan untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap motel menjadi lebih baik. Dengan kerja kerasnya, Yanolja berhasil mewujudkan mimpi dari Lee Su Jin. Kisah Lee  seolah kisah film yang menginspirasi. Dari cleaning service menjadi CEO tentu perjalanan yang panjang.